Selama ini masyarakat cuma hobi memelihara cucakrawa. Padahal, jika ditangkarkan , burung ocehan ini akan memberi pemasukan hingga peluhan juta rupiah per bulan. Seperti yang dilakukan para anggota APC.Cucakrawa ( Latin : pycnonotus zeylanicus ). Burung ysng berwarna abu-abu ini ( dulu ) dapat dijumpai dihampir semua pulau di Indonesia, terutama Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Meski, kegemaran memelihara unggas ini untuk pertama kalinya timbul di Jawa, terutama dikalangan raja-rajanya. Selain itu, masyarakat Jawa pulalah yang menamakan cucakrawa ( Jawa: cucak = burung dan rawa = rawa ), mengingat habitat aslinya dirawa-rawa. Sayang, burung penyanyi ini kini hanya dapat dijumpai di hutan-hutan di Kalimantan Utara ( wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia ) itupun dalam jumlah yang sangat sedikit.
Berkaitan dengan itulah, Heru Sutarman dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Asosiasi Penangkar Cucak Rawa ( APCR ) melakukan penangkaran, yang arahnya ke konservasi , disamping bisnis. " Sebab, bila dibandingkan dengan burung-burung lain, cucakrawa tidak cuma memiliki bulu-bulu yang indah dan suara yang merdu, tetapi juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, mengingat populasinya semakin langka," ujar Heru APCR, begitu kalangan dekatnya menjulukinya.
Memeang, sampai sekarang belum ada data akurat yang menerangkan beberapa jumlah burung yang di Sumatra dinamai beru-beru ini. Tetapi, dilihat dari market-nya, seperti yang dilihat di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, yang merupakan pasar burung terbesar se-Asia Tenggara, tidak setiap kios menyediakan atau menjual cucakrawa. " Mungkin hanya sekitar lima atau enam kios dari puluhan kios yang ada, yang menjual cucakrawa. Itu pun hanya beberapa ekor," kata mantan supervisor pada sebuah bank asing itu.
Di pasar, ia melanjutkan, burung yang diperjual belikan secara legal ini dijual dengan harga Rp 3 juta/ekor, baik jantan maupun betina. " Inilah satu lagi kelebihan cucakrawa yaitu jantan dan betina mengeluarkan bunyi atau suara. Sehingga, kita tidak akn merugi melakukan penangkaran," ujar Heru yang memulai penangkaran ini pada tahun 2005.
Dikutip dari Tabloid Trans Agro
(641).jpg)
One response to “Tangkarkan Cucakrawa! Tak Akan Rugi”
:)) ha.ha.ha.ha
Leave a reply